7 Rahasia Tersembunyi Bikin Desain di Canva, Hasilnya kayak Pakai Software Pro

rahasia-canva rahasia-canva

Pernah nggak sih, ketika melihat satu desain, kamu langsung ngeh kalau itu dibuat di Canva? Entah terlihat dari tata letaknya, elemen, atau warnanya sangat familier dengan template yang ada di aplikasi tersebut. Biasanya, hal ini memang terjadi karena seseorang menggunakan template desain di Canva tanpa pengeditan klop sekali atau kemungkinan cuma mengedit isinya saja.

Secocoknya nggak apa-apa, sih, soalnya template dari aplikasi ini aja udah penuh yang bagus. Namun, sayang banget, kan, kalau Canva nggak dimaksimalkan penggunaannya? Menurut Fiony Angelika (Canva Ninja), kita bisa, lo,  melangsungkan desain yang cantik dan ciamik seperti memakai aplikasi desain profesional sahaja dengan Canva. Namun, ada syaratnya…. Kita mesti memahami cara atau teknik-teknik melangsungkan desain grafis, tapi nggak kelihatan pakai Canva.

Emang bisa, ya?

Bisa dong, SoHip. Fiony membagikan bocoran caranya di ulasan ini. Simak, yuk!

1. Kalau mau hasil yang bagus, hindari menggunakan template tanpa kreativitas dan improvisasi

Menggunakan template desain di Canva bukan sesuatu yang buruk. Kalau mengingat template yang disediakan sudah estetis dan eye catching, hal yang wajar bila para pengguna menggunakannya. Namun,  menggunakan template tanpa pengeditan menyebabkan hasil desain kita sangat terlihat pasaran.

Jadi, sebisa mungkin hindarilah menggunakan template. Jika memang terpaksa menggunakan template, usahakan jangan sebanding persis. Buatlah improvisasi versimu senbatang tubuh. Hindari hanya mengubah isi, gambar, elemen. atau jenis hurufnya saja. Coba ubah juga tata letaknya.

“Misal posisi elemen di tengah, ubah ke pinggir atau recreate lagi desain yang baru kendati kita melancarkannya nggak dari nol,” terang Fiony.

Dengan cara ini, kita masih bisa memasukkan kreativitas ke dalam desain grafis yang dibuat sehingga hasilnya terlihat unik.

2. Pastikan dulu apa yang ingin kita delivery dalam desain grafis. Penting!

Cara selanjutnya melahirkan desain, tapi biar nggak kelihatan di Canva adalah memastikan apa yang kita delivery ke audiens. Menurut Fiony, cara kerja ini mirip dengan menulis. Ketika menulis, kita mesti memastikan dan memahami dulu informasi yang akan dibahas membukan? Sama halnya saat kita ngomongin desain grafis.

Kita punya PR untuk memahami apa yang ingin kita sampaikan dan bagikan di dalam desain. Setelah itu, coba bayangkan atau rancang kerangkanya di dalam otak dulu. Kira-kira desain seperti apa desain yang ingin dibuat? Apakah kita ingin melangsungkan desain yang bertipe minimalis atau infrografis. Baru deh, kalau sudah paham rancangannya, kita buat desain dengan menggunakan aplikasi Canva. 

3. Manfaatkan fitur-fitur ‘tersembunyi’ di Canva. Jarang dieksplorasi nih~

Sebetulnya Canva nggak kekurangan fitur bagus di dalamnya, tapi ada kira-kira fitur yang jarang diketahui. Akhirnya, fitur-fitur ‘tersembunyi’ ini nggak berlebihan dieksplorasi oleh penggunanya. Padahal, kalau bisa memaksimalkan penggunaannya, hasil desain kita dijamin nggak terlihat seperti desain di Canva.

Ini beberapa fitur yang kurang dieksplorasi banyak orang, tapi menjadi andalan Fiony:


Dapatkan free access untuk pengguna baru!

Dengan fitur ini, kita bisa mengedit foto secara optimal seperti menggunakan aplikasi Photoshop. Contohnya, melangsungkan garis di belakang foto.

“Itu juga bisa dilakukan di Canva dengan menggunakan fitur Shadow. Aku sececah lupa apa namanya, seperti Outline,” tutur Fiony.

Jika ingin membuat desain banner atau desain-desain yang tujuannya untuk dicetak, simpan desain dengan pakai fitur CMYK. Fitur ini seakuratnya nggak ada di Canva dulu. Mengapa? Karena Canva memang diciptakan untuk membuat desain-desain digital seperti konten Instagram, logo digital, dan deminya. Sekarang Canva mulai mengembangkan diri. Nggak cuma fokus ke desain digital, tapi juga art printing.

Kalau art printing disimpan dalam bentuk jpg, Kelonggaran kemungkinan warnanya akan Bersalin. Akhirnya, Canva melancarkan inovasi berupa penyimpanan dalam bentuk CMYK agar warnanya nggak Bersalin. 

Bila mempunyai bujet yang lebih, nggak ada celanya untuk beralih ke Canva Pro. Ada berisi fitur menarik yang memudahkan pengguna, seperti fitur social media schedule. Kita bisa upload otomatis desainnya melalui Canva. Kita belaka perlu menyambungkan Canva dengan akun media sosial seperti Instagram. Selain itu, kita juga bisa mengunggah font ke Canva Pro. 

Ada juga aplikasi-aplikasi extend dari Canva yang kurang dieksplorasi seperti QR Code, giveaway, dan lainnya Jadi, ada berlebihan source foto, video, atau elemen-elemen yang ada di luaran Canva yang bisa digunakan atau disambungkan setenggat bisa kita tambahkan dan eksplorasi,” jelas Fiony.

4. Beranilah bermain warna supaya hasil desain seperti buatan desainer profesional

KeRompengan memilih warna juga memengaruhi hasil desain. Keberjibunan orang mungkin akan memilih warna yang aman dan nggak kontras. Misalnya, latar belakang desainnya berwarna hitam, kemudian font berwarna abu-abu. Isi desain memang terbaca sih, tapi susah untuk dibaca tulisannya. 

Lantas, bagaimana warna yang seTulusnya dipilih?

Beranilah memilih warna yang kontras. Tujuannya agar isi dalam desain tetap bisa dilihat oleh audiens. Perkara warna ini minim sepele, tapi kalau luput pilih, hasil desain malah kayak kurang profesional.

5. Ini jumlah dan jenis font yang paling pas dipakai dalam sebuah desain. Berapa, ya?

Salah satu faktor yang melaksanakan desain kurang menarik adalah penggunaan font. Umumnya, desainer bingung memilih font dan malah merasa semua font bagus. Ujung-ujungnya, desainer akan menggunakan semua font di satu desain. Padahal dalam desain grafis, nggak boleh ada terlintas luber jenis font.

“Maksimal 3 jenis font, tapi rata-rata desainer memakai 2 jenis font. Satu font untuk judul dan satu jenis lagi untuk bagian paragraf,” kata Fiony.

7. Pemilihan elemen layak cermat, tepat, dan cukup. Ini triknya!

 Terlalu berlebihan elemen atau terlalu berlebihan teks justru melakukan desain tampak nggak profesional. Kalau berlebihan teks malah jadi mirip dengan buku cetak atau koran. Kita mesti mampu mengubah pesan teks menjadi bentuk visual yang menarik. Penggunaan elemen akan sangat membantu untuk mewujudkan desain dengan visualisasi yang jelas.

Elemen yang sering Fiony pakai adalah Organic Shape, Abstract Shape, Scribble, Gradien, dan lainnya. Elemen-elemen ini bersifat general. Artinya, elemen ini bisa dipakai untuk nyaris semua desain. Contohnya, Organic Shape adalah elemen-elemen dasar untuk digunakan semua jenis desain.

“Meski semua elemen tersebut bisa digunakan untuk semua jenis desain, tapi tergantung jenis desainnya juga, ya. Apakah diaplikasikan untuk desain yang sifatnya estetis, pastel, atau retro?” tekan Fiony.

Ini sebagian daftar kata kunci elemen yang jarang dikekenali:

Setelah acuh trik dari Fiony, sekarang saatnya membuat desain grafis di Canva, tapi hasilnya seperti menggunakan aplikasi profesional. Selamat mencoba~